Ilustrasi Erwin Ramdani mengayuh sepeda © PERSIB.co.id/Amandeep Rohimah

lebih dekat
Jumat, 04-12-2020 11:00 WIB

Kisah Mengayuh Sepeda ke Sekolah dan Lapangan UNI

Perjuangan saya di UNI dimulai. Berpasang mata tertuju pada saya. Sebagian dari mereka berkelompok karena sudah lebih dulu masuk dan mengenal satu sama lain. Saya datang ke UNI belakangan. Tapi demi meraih mimpi, tak ada namanya kata terlambat. Terima kasih untuk Pak Ulloh (Saefulloh). Mata tajamnyalah yang membawa saya ke sini.

Baca Kisah Sebelumnya: Berawal dari Sepatu Murah yang Dijahit Berulang Kali

Sebagai pembinanya yang merintis dari nol, saya bangga kepada Erwin. Para pelatih dan manajemen UNI juga merasa bangga. Apalagi Erwin juga sudah melanglangbuana di Liga 1. Begitu kata Pak Ulloh. 

Sambutan "hangat" dari UNI langsung kami terima dengan sebuah permainan berkelompok. Bismillah, keringat dan debu menempel di sekujur tubuh. Buat saya, ini tak sebanding dengan derasnya doa dan dukungan keluarga. Singkat, saya lolos tahap pertama dan diperkenankan berlatih tiga kali dalam sepekan. 

Saya senang ketika mencetak gol. Tapi, entah kenapa pelatih menempatkan saya sebagai bek tengah. Itu terlalu jauh dari gawang lawan. Tapi, saya bisa terima sambil terus memperbaiki teknik agar bisa mengejar ketertinggalan. Pak Sabrun Hanafi dan Iwan Bastian banyak memberi saya pelajaran penting.

Terus terang, yang ada di pikiran saya saat itu hanyalah berlatih agar bisa bermain lebih baik. Karena itu, setiap waktu kosong saya pakai dengan berlatih, meskipun sebatas hanya juggling bola. Pikiran untuk bermain sudah saya tinggalkan di pintu gerbang UNI.

***

Keesokan harinya, saya harus bangun pagi-pagi sekali dan bersiap untuk ke sekolah. Awalnya, saya pakai angkutan umum. Tapi kepala ini pusing dan perut saya mual ketika duduk di bangku panjang angkutan umum. Tak ingin susah, saya ambil sepeda dan mengayuhnya ke sekolah. 

Badan berkeringat sesampainya di kelas. Lantas, mau berharap apa lagi? Ya sudah, saya harap ini tak jadi masalah karena yang terpenting jangan sampai kotor dan buat mamah marah. Selesai sekolah saya kembali mengayuh sepeda untuk berlatih di UNI sore harinya. Kalau pulang dulu ke rumah, sepertinya tidak akan keburu. Jadi, lapangan langsung jadi sasaran.

Saya sampai di UNI lebih awal, tapi tubuh ini kehilangan tenaga. Jadi, saya perlu sedikit menepi kali ini. Salah satu sudut kantin pun jadi sasaran untuk sejenak memejamkan mata yang beratnya sudah terasa saat mengayuh sepeda di perjalanan tadi.

Lambat laun, saya mulai bisa melakukan apa yang pelatih inginkan. Saya pun mulai berpikir membantu tim mencetak gol. Perlahan, saya mulai tunjukkan apa yang saya sukai hingga akhirnya pelatih sepakat mendorong saya lebih ke depan.  

Satu hari, saya ditempatkan ke dalam satu kelompok kecil. Seorang anak punya kemampuan oke dan pelatih memasangnya sebagai gelandang. Namanya Galang. Kami merasa cocok dan saya pikir kami bisa main berdampingan. 

***

Satu hari yang tak akan pernah saya lupakan. Tapi sebelum kalian mendengarnya, saya perlu meminta maaf telah buat Galang ikut kesusahan. Sorry, Bro!

“Lang, yuk kita pulang ke rumah saya. Tapi, kalau mau cepat harus jalan lewat tol, bagaimana?” Tanya saya yang sebenarnya berharap ia menolaknya. Tapi Galang memang teman terbaik. Ia mengangguk saja. 

Jalan tol tidak memperbolehkan seorang pun berjalan, berlari atau bersepeda di atasnya, meskipun hanya di pinggiran. Kendaraan melaju kencang tidak hanya di jalur tengah, tapi juga kerap mengambil bahu jalan yang mungkin pengemudinya dikejar waktu.

Tapi yang mengejar kali ini sebuah mobil patroli tol. BOOM! Mobil menghalau kami yang kaget setengah mati dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Petugas turun dari mobil dan langsung berkata dengan nada tinggi dan diakhiri dengan banyak pertanyaan. Tak cukup di situ, kami dihukum menghafalkan Pancasila dan push-up beberapa kali

Seketika, saya ingat mamah dan apa yang ia selalu khawatirkan. Saya pun menyesal melakukannya. Tindakan-tindakan berbahaya seperti inilah yang selalu membuatnya geram. Sering ia melarang saya untuk pergi ke jalan tol dengan ancaman sapu lidi mendarat di kaki. Tapi itulah mamah dan cinta kasihnya. Terima kasih mamah sudah menjaga saya sampai hari ini.*** 

*Tulisan ini adalah bagian kedua dari Blue’s Journey edisi Erwin Ramdani yang penuh dengan perjuangan untuk bisa berkostum PERSIB. Nantikan tulisan bagian ketiga! 
 

 

persib.co.id
pernik
Olahraga Erwin di Tengah Pandemi, Dari Bulutangkis Hingga Bersepeda
Erwin Ramdani memilih bulutangkis untuk mengisi waktu luang di tengah ketidakpastian Liga 1 2020
Rabu, 23-12-2020 21:30 WIB
sejarah
Menemukan Kesempatan ke PERSIB di Persimpangan Jalan
Ibarat seorang tokoh di sebuah gim, saya seolah menemukan satu nyawa tambahan untuk kembali beraksi
Minggu, 20-12-2020 18:00 WIB
berita harian
Erwin Jelaskan Selebrasi Gol Emosional ke Gawang PS Sleman
Erwin Ramdani menjadi aktor penting bagi PERSIB ketika memutus rantai hasil tak pernah menang dalam tujuh pertandingan.
Jumat, 11-12-2020 15:35 WIB