Abdul Aziz Lufti

lebih dekat
Selasa, 16-02-2021 17:00 WIB

Kesuksesan Berawal dari Mimpi

Nama saya Abdul Aziz Lufti. Sekali lagi, Lufti bukan Lutfi. Saya anak kedua dari pasangan Haji Wardy dan Siti Julaeha. Saya dilahirkan di Bandung, kota yang indah dan sangat nyaman ditempati. 

Tapi suasana di selatan Bandung tentunya ada perbedaan dengan di daerah utara. Karena di selatan Bandung, tepatnya di Baleendah itulah saya dibesarkan oleh kedua orangtua. Udaranya memang tak sesejuk di utara. Tapi kehangatan di daerah selatan justru semakin sempurna karena kehadiran keluarga yang senantiasa menyayangi saya. Semuanya menjadi lengkap dan patut saya syukuri.

Sejak kecil, saya sudah jatuh cinta dengan sepakbola. Barangkali, setelah ayah dan ibu, sepakbola adalah cinta saya selanjutnya. Ayah bilang, saya sudah bisa menendang bola dengan kencang saat masih berumur dua tahun. 

Lagi pula di dekat rumah ada lapangan yang terbengkalai. Bersama teman-teman, saya mulai memanfaatkannya sebagai lapangan untuk bermain si kulit bundar. Semuanya bahagia. Karena sebagaimana anak kecil, dapat bermain bersama-sama adalah kebahagiaan. Kami senang berlari-lari dan melompat, kami berbagi umpan dan membuat kesalahan, mencetak gol dan tertawa di lapangan bersama-sama. Kini lapangan itu sudah menjadi lapangan futsal, namun memori itu abadi di dalam hati saya.

Rutinitas kami bermain sepakbola berjalan sebagaimana anak kecil pada umumnya. Namun semakin lama, saya merasa sepakbola perlu diseriuskan. Akhirnya, saya dan dua teman lainnya memutuskan untuk bergabung ke Sekolah Sepakbola yang dikenal dengan nama Pro Duta.

Apalagi, bisa bermain dengan lebih banyak teman tentu bakal lebih menyenangkan. Orangtua juga mendukung keputusan itu. Mereka bilang, kenapa tidak untuk lebih berlatih di sekolah sepakbola. Kelihatannya, mereka waktu itu sudah menyadari adanya potensi dalam diri saya.

Ayah saya selalu support. Tak jarang dia mengajak saya menyaksikan langsung pertandingan PERSIB di stadion. Pernah juga dia berkata saat kami duduk bersama di bangku tribun, “Semoga Aziz bisa menjadi pemain PERSIB suatu hari nanti.” Saya masih terlalu kecil untuk menjawab, tapi di dalam hati, saya mengamini doa itu.

Ibu pun sama. Dia wanita hebat dan seperti pahlawan di keluarga kami. Dia juga sering mengantar jemput saya menuju ke tempat latihan. Tak hanya itu, dialah pendukung pertama sejak saya mengenali sepakbola. Tapi kalau ibu sedang sibuk, ya saya pulang saja dengan angkutan kota (angkot), jurusan Tegalega-Ciparay.

Pernah suatu waktu, saya yang kelelahan sehabis latihan sore pulang ke rumah dengan angkot itu. Di panas teriknya cuaca selatan Bandung, saya kemudian tertidur lelap di perjalanan. Padahal, kalau cuaca panas, tidur bukanlah perkara mudah. Pasti akan bikin gerah. Mungkin karena saking lelahnya, saya pun pulas dan tak sadar kalau harus turun di depan rumah. Lalu sopir angkot berkata kepada saya, “Jang, sudah sampai di Terminal Ciparay.” Saya sontak terkejut, karena lupa untuk turun di tujuan.

Namun, ada satu hal yang masih saya ingat. Dalam tidur saya yang lelap itu, saya bermimpi menjadi pemain sepakbola profesional untuk tim tanah kelahiran sendiri, yaitu PERSIB. Sampai saat ini saya percaya, setiap kesuksesan dan kemenangan selalu berawal dari mimpi. (bersambung)***

persib.co.id
berita harian
Aziz Tidak Fokus Waspadai Satu Pemain Lawan
Abdul Aziz menyebut skuad Pangeran Biru tidak akan fokus mengantisipasi satu atau dua pemain saat menghadapi Bhayangkara FC
Selasa, 12-10-2021 11:00 WIB
berita harian
Aziz Siap Kembali Merumput
Aziz sempat mengalami cedera lutut di Piala Menpora beberapa waktu lalu
Sabtu, 09-10-2021 17:00 WIB
berita harian
Aziz Fokus Kembalikan Kebugaran ke Level Terbaik
Abdul Aziz Lufti Akbar mengaku kondisinya sudah jauh lebih baik
Rabu, 11-08-2021 17:00 WIB