Erwin Ramdani © PERSIB.co.id/Amandeep Rohimah

lebih dekat
Kamis, 03-12-2020 09:00 WIB

Berawal dari Sepatu Murah yang Dijahit Berulang Kali

Saya tumbuh sebagai anak lelaki di perkampungan salah satu sudut Kota Bandung. Saya anak pertama dari pasangan Asep Winaryana dan Iin Aisyah, dengan satu adik perempuan bernama Ineu Yulyanna. Sebenarnya, saya juga punya adik laki-laki, tapi ia meninggal saat masih sangat kecil. Namanya Mohammad Ali Ramdani. Doa selalu untukmu, Dik.

Waktu kecil, semua orang di rumah mencurahkan perhatiannya kepada saya dan hal yang paling saya sukai adalah sepakbola. Tak ada yang bisa menghentikan saya bermain sepakbola.Tanpa disadari, bentuk perhatian itu juga yang telah mendewasakan saya.

Orangtua saya selalu bilang, sejak kecil saya memang sulit dipisahkan dari sepakbola. Di mana pun, bahkan di dalam rumah, saya main sepakbola dengan memantulkannya ke tembok. Kadang saat tidur pun, saya tidur bersama bola.

Seperti banyak anak lelaki pada umumnya, saya senang bermain. Ada sekitar enam sampai sepuluh orang anak seusia saya di sekitar rumah. Setelah pulang sekolah, kami berkumpul, lalu berjalan kaki untuk bermain sepakbola di atas lapangan, yang saat ini sudah beralih fungsi menjadi rumah-rumah kost. 

Dengan sepakbola kami bersenang-senang, walau dalam pertandingan, kami sering bersitegang untuk memastikan sebuah gol tercipta atau tidak. Maklum, di lapangan itu tidak ada gawang, lengkap dengan tiang hingga jala, melainkan hanya ditandai dengan tumpukan sandal atau baju anak-anak yang tidak ingin kotor.

Saya sangat beruntung bisa begitu bersahabat dengan si kulit bundar. Ketika kami main bola bersama, saya hanya ingin berlari sekencang mungkin, bergerak meliuk-liuk melewati lawan dan buat gol. Untuk sementara, mereka adalah lawan dan harus kalah. Tapi, entah harus merasa bersalah atau bangga, setiap tim terbagi dua, jumlah pemain di tim saya harus lebih sedikit ketimbang tim lain karena kehadiran saya. Ah, saya tak peduli! Yang penting, saya harus jadi pemenang.

Permainan saya membaik. Banyak orang mulai tahu saya bisa memberikan sesuatu. Keluarga besar dan kedua orangtua saya pun mulai menyadari jika saya dan sepakbola adalah satu. Mereka pikir, bakat yang saya miliki ini harus diasah. 

Namun, ayah hanyalah seorang sopir. ibulah yang mengurus saya setiap hari. Ekonomi kami bukan menengah ke atas. Banyak orang melihat, sepakbola adalah olahraga murah. Tapi bagi kami, harus berpikir beberapa kali untuk membelikan saya sepasang sepatu sepakbola. Di satu sisi, ayah sangat sayang pada saya. Ia mendukung apapun yang membuat saya nyaman dan aman. Almarhum kakek pun begitu. Tak jarang, ia juga ikut mengantar ke lapangan dan mengamati hingga akhirnya sadar saya punya kelebihan. 

Tapi, kalian harus tahu, tak mudah bagi kedua orangtua saya mengantarkan ke gerbang sekolah sepakbola. Saya harus bersyukur karena keluarga besar saya, mulai dari almarhum kakek dan paman-paman tak tinggal diam. Mereka secara sukarela membantu beban berat itu bersama-sama demi kebaikan saya.

Main sepakbola sebenarnya hal murah karena hanya berlari dan bola yang terbilang awet. Tapi buat kami tetap sulit terjangkau karena banyak biaya yang lain. Untuk sepatu saja, orangtua saya hanya bisa kasih yang sederhana. Itu pun harus dijahit beberapa kali. Begitu kata ayah saya.

Melihat hal itu, mungkin karena masih seorang bocah kelas 1 SMP yang setahun lebih muda ketimbang anak-anak lainnya, saya tak terlalu mengerti. Tapi apa yang keluarga saya lakukan sebenarnya terpatri di dalam hati, menguatkan menjadi sebuah keyakinan agar kelak, saya bisa mengenakan jersey kebanggaan PERSIB. 

Orangtua mungkin khawatir anaknya ini kelak jadi apa. Akan jadi pemain sepakbola enggak? Tapi dalam hati kecil, saya punya keyakinan akan menjadi pemain sepakbola profesional. Karena memang tujuan utama saya masuk SSB adalah menjadi pemain PERSIB.***
 

 

persib.co.id
pernik
Olahraga Erwin di Tengah Pandemi, Dari Bulutangkis Hingga Bersepeda
Erwin Ramdani memilih bulutangkis untuk mengisi waktu luang di tengah ketidakpastian Liga 1 2020
Rabu, 23-12-2020 21:30 WIB
sejarah
Menemukan Kesempatan ke PERSIB di Persimpangan Jalan
Ibarat seorang tokoh di sebuah gim, saya seolah menemukan satu nyawa tambahan untuk kembali beraksi
Minggu, 20-12-2020 18:00 WIB
berita harian
Erwin Jelaskan Selebrasi Gol Emosional ke Gawang PS Sleman
Erwin Ramdani menjadi aktor penting bagi PERSIB ketika memutus rantai hasil tak pernah menang dalam tujuh pertandingan.
Jumat, 11-12-2020 15:35 WIB