lebih dekat
Jumat, 19-02-2021 19:00 WIB

Kalah dan Merasa Bersalah

Saya tumbuh menjadi seorang remaja, kemudian perlahan menjadi dewasa. Berkat kerja keras sebelumnya, saya pun mendapatkan tawaran bergabung dengan PERSIB U-17 dan kemudian PERSIB U-21. Sepakbola terasa semakin dekat dengan hidup saya. Tiada hari tanpa berlari dan berkompetisi.

Baca Juga: Kesuksesan Berawal dari Mimpi

Singkat cerita, Diklat PERSIB dibentuk pada tahun 2013. Lagi-lagi, nama Abdul Aziz Lufti kembali masuk ke daftar tim. Di sana, saya banyak belajar dan kian bersemangat menempa diri. Terlebih, pelatih saya yang bernama Jaino Matos sangat menginginkan semua anak asuhnya maju dan berkembang. Tak terkecuali bagi saya sendiri, yang saat itu menjabat sebagai kapten tim. Pokoknya, saya sangat menikmati setiap sesi latihan bersama Coach Jaino. Dia sosok yang baik, cerdas sekaligus visioner.

Tapi saya pernah merasa sangat bersalah kepada pelatih asal Brasil itu, tepatnya pada tahun 2014. Semua berawal saat saya dan beberapa teman di Diklat PERSIB ikut beruji tanding di tim Porda. Padahal, coach Jaino sudah mengimbau kepada saya dan kawan-kawan, bahwa hari Minggu, tim kami akan melakoni partai penting. Yakni pertandingan menghadapi Semen Padang FC. Bukan tanpa alasan, Coach Jaino sangat menginginkan saya agar bisa tampil prima. Apalagi, laga melawan Kabau Sirah muda menjadi penentu nasib tim kami nantinya. 

Apa yang dikatakan Coach Jaino benar. Malapetaka itu datang menghampiri kami karena Diklat PERSIB gagal lolos ke babak selanjutnya setelah pertandingan berakhir imbang tanpa gol.

Jujur, saya merasa sangat sedih saat itu. Sebab kepercayaan yang selama ini diberikan oleh coach Jaino seolah pupus begitu saja. Sejak itu pula sikapnya berubah dan menjadi berbeda. Saya paham, dia kecewa. Bahkan pesan singkat yang saya kirimkan ia abaikan.

Setelah kejadian itu, nama saya hilang dari daftar skuad untuk musim berikutnya. Saya merenung dalam kesedihan. Tapi, kata menyerah tak pernah ada dalam kamus hidup saya. Saat itu pula, saya bangkit dan memutuskan pindah ke Semen Padang FC. Dengan harapan, bisa melanjutkan perjalanan di dunia sepakbola.

Sialnya, di tahun 2015 itu kompetisi sepakbola tanah air ditiadakan. Pasalnya, FIFA memberikan sanksi akibat adanya dualisme kompetisi di Indonesia. Dari situlah saya akhirnya mencoba menggeluti futsal. Bahkan sempat bermain secara profesional untuk sejumlah tim.

Mungkin benar, kesempatan akan datang selama kita tidak berhenti. Di tahun 2016, saya mendapat kesempatan untuk kembali ke Bandung. Namun bukan untuk membela PERSIB. Kali ini, saya ke Bandung untuk membawa nama Jawa Barat di cabang olahraga sepakbola putra di ajang PON. Sebagaimana seorang putra daerah, saya tampil habis-habisan di sepanjang turnamen. Hingga akhirnya, saya dan beberapa teman yang juga dari Diklat PERSIB membawa tim PON Jabar menjadi juara. Itu menjadi salah satu kenangan berharga dalam hidup saya. (bersambung)

 


persib.co.id


berita harian
Aziz Tidak Fokus Waspadai Satu Pemain Lawan
Abdul Aziz menyebut skuad Pangeran Biru tidak akan fokus mengantisipasi satu atau dua pemain saat menghadapi Bhayangkara FC
Selasa, 12-10-2021 11:00 WIB
berita harian
Aziz Siap Kembali Merumput
Aziz sempat mengalami cedera lutut di Piala Menpora beberapa waktu lalu
Sabtu, 09-10-2021 17:00 WIB
berita harian
Aziz Fokus Kembalikan Kebugaran ke Level Terbaik
Abdul Aziz Lufti Akbar mengaku kondisinya sudah jauh lebih baik
Rabu, 11-08-2021 17:00 WIB