Asep Sumantri © PERSIB.co.id/Amandeep Rohimah

interview
Selasa, 09-06-2020 17:00 WIB

Asep Sumantri, "Tak Menyangka Bisa Bantu PERSIB Juara di Usia Muda"

ASEP Sumantri merupakan pemain yang namanya sudah berkibar sejak bergabung dengan PERSIB di usia belia. Ketika pertama kali bergabung dengan PERSIB senior pada Kompetisi Perserikatan 1989/1990, usianya belum genap 20 tahun. Yang mengesankan, ketika sederet pemain bintang yang lahir di era emas '86 seperti Adeng Hudaya, Robby Darwis, Adjat Sudradjat, Djadjang Nurdjaman, Yusuf Bachtiar masih bertahan, Ujeb -- sapaan akrabnya -- bisa mengambil peran besar untuk mengantarkan PERSIB meraih gelar juara.

Sejarah mencatat, Asep tiga kali merasakan gelar juara bersama PERSIB saat masih aktif sebagai pemain yaitu Kompetisi Perserikatan 1989/1990, 1993/1994 dan Liga Indonesia (LI) I/1994-1995. Kemudian, Ujeb kembali merasakan gelar juara ketika menjabat sebagai asisten pewlatih Djadjang Nurdjaman pada Liga Super Indonesia (LSI) 2014. 

Saat ini, Ujeb aktif mengisi kesehariannya sebagai tenaga pengajar. Di tengah kesibukannya, ia berkesempatan berbincang santai dengan PERSIB.co.id terkait memori emasnya bersama Pangeran Biru.

Assalamualaikum, apa kabar Pak Ujeb?

Alhamdulillah sehat wal'afiat, segar bugar.

Kami penasaran, bagaimana cerita Pak Ujeb berkiprah di sepakbola dulu?

Awalnya enggak sengaja. Dulu, bapak saya tinggal di Kebon Sirih, Babakan Ciamis (Bandung). Beliau suka nonton Adjat (Sudradjat) saat PERSIB waktu main di Stadion Siliwangi Suatu hari, saya dibawa nonton. Tapi, sampai pintu enggak boleh masuk sama penjaga karena tiketnya cuma ada satu. Bapak bilang ke penjaga, boa teuing ieu budak teh engke jadi pemain PERSIB (siapa tahu, anak ini nantinya jadi pemain PERSIB) dan akhirnya maksa nonton dari tribun utara. 

Setelah itu saya diminta bapak ikut latihan sama Propelat di Stadion Siliwangi. Bapak minta saya cuma ikut latihan biar bisa main sepakbola. Enggak ada tuntutan buat jadi pemain sepakbola. Tapi alhamdulillah mulai dari sana, saya terus main sepakbola hingga sekarang enggak pernah melupakan sepakbola. 

Jadi, saat usia berapa Pak Ujeb gabung PERSIB ? 

Saya gabung PERSIB di akhir tahun 1987, pas di usia 17 tahun. Saya promosi dari PERSIB Junior di bawah pelatih Nandar Iskandar dan pelatih fisik Indra Thohir. Waktu itu, saya masuk sama Nyanyang, Sutiono Lamso, Aries Munandar dan Yaya Sunarya.  Di Junior, saya sudah masuk di usia 15 tahun dan pernah bawa PERSIB juara di Piala Haornas pertama.

Menjadi pemain termuda di tim saat juara Perserikatan tahun 1989/1990, bagaimana rasanya waktu itu?

Tahun 90 itu gelar juara pertama saya untuk PERSIB. Tapi sebelumnya, sudah pernah bawa juara juga di turnamen. Saya memang pemain paling muda waktu itu. Sebuah kebanggaan, terlebih waktu itu juga sudah masuk ke dalam tim inti. Bangga mah sudah pasti, tapi memang sulit dipercaya, kok secepat ini bisa bawa tim juara. Tapi mungkin karena ada kepercayaan dari pelatih, meski sebenarnya enggak ada yang spesial dari permainan saya.

Saya, Sutiono dan Nyanyang sudah sagojod (sepemahaman) kalau main. Di dalam latihan, kami bertiga terus mengasah kerja sama, sampai benar-benar solid dan hasilnya terlihat di pertandingan 

Sampai sekarang, saya tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dikerjakan. Itu tidak hanya sepakbola, tapi di segala bidang, karena saya ingin terus mencoba. Bahkan setelah juara di tahun 1990, waktu itu saya yakin kami masih bisa juara lagi

Pemain senior juga mengayomi, selalu kasih tahu cara bagaimana bermain di atas lapangan. Jadi dari sana saya mendapat banyak ilmu. Di dalam tim, kami memang main bola dengan penuh kerja keras, kalau harus cedera di latihan, ya cedera saja 

Bagaimana perjalanan di kompetisi tahun 1990 waktu itu? 

Pertandingan pertama melawan Persita Tangerang di Bandung kami kalah. Waktu itu kami lanjut melawan PS Bengkulu tapi kalah. Karena kalah kami dihukum tidak boleh pulang dulu. Jadi latihan satu minggu di sana lalu lanjut melawan PSMS Medan. Saat itu tim masih di zamannya Ketua Umum Ateng Wahyudi.

Lalu kapan akhirnya memutuskan berhenti?

Saya berhenti main di tahun 1998. Banyak orang bilang saya berhenti di usia yang terlalu muda. Tapi, alhamdulillah saja, ketika PERSIB sudah tidak bisa pakai saya ya sudah, saya tetap berpikir positif. Sempat ditawari ke Pelita Jaya, PKT Bontang juga Petrokimia, tapi enggak tertarik dan memang karena waktu itu saya juga sudah punya pekerjaan lain. *** 

persib.co.id
legenda
Dadang Hidayat Berkarier Hanya untuk PERSIB
Dadang Hidayat bercerita tentang predikat one man one club di PERSIB
Senin, 17-08-2020 09:00 WIB
interview
Dahi: Suladi Striker Berkualitas
Mantan kapten PERSIB mengenang sosok mendiang Suladi
Senin, 03-08-2020 21:00 WIB
berita harian
Tinggalkan Rumah Sakit, Indra Tohir Diizinkan Rawat Jalan
Indra M. Thohir diizinkan pulang dari Rumah Sakit Santosa Bandung, pada Senin 3 Agustus 2020
Senin, 03-08-2020 17:00 WIB