
Endan Suhendra
Graha PERSIB, Kamis pagi, 9 April 2026. Jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB, tetapi halaman sudah dipenuhi ratusan Bobotoh. Mereka datang dengan harapan yang sama, yaitu bisa pulang membawa jersey kolaborasi PERSIB dan Weekend Offender yang baru dirilis.
Weekend Offender adalah merek pakaian streetwear populer asal Britania Raya (Wales) yang didirikan pada tahun 2004 oleh Sam Jones dan Rhydian Powell. Merek ini berakar pada subkultur casual sepak bola Inggris dan sering dikaitkan dengan estetika jalanan, desain sederhana, serta citra "kenakalan" akhir pekan.
Mereka datang bergelombang. Dari sudut-sudut Kota Bandung, bahkan dari luar daerah. Ada yang datang berdua, ada pula yang berkelompok, berbagi cerita di sela antrean. Tak sedikit yang rela berangkat sejak pagi buta, demi memastikan diri tak kehabisan jersey idaman.
Di lantai 1, antrean panjang terbentuk untuk pengambilan nomor. Barisan itu menjalar pelan hingga ke trotoar, menjadi pemandangan yang tak asing bagi kota yang hidup bersama sepak bola. Namun di balik panjangnya antrean, tak ada riuh yang berlebihan. Semua berjalan tertib.
Petugas mengarahkan dengan sigap. Satu per satu, Bobotoh menerima nomor antrean, tiket kecil menuju harapan besar. Tepat pukul 09.35 WIB, gelombang pertama mulai bergerak naik ke lantai 2, menuju PERSIB Store.
Di dalam, suasana terasa lebih teratur. Alur antrean dibentuk rapi, ritmenya dijaga. Setiap pembeli diberi batas maksimal dua potong jersey. Sebuah aturan sederhana untuk memastikan euforia ini bisa dirasakan lebih banyak orang.
Bagi Bobotoh, ini bukan sekadar membeli jersey. Ini tentang identitas, tentang kebanggaan yang dikenakan di dada. Kolaborasi ini menjadi simbol baru, pertemuan antara semangat klub dan gaya yang lebih luas.
Di tengah antrean yang panjang dan waktu yang terus berjalan, ada satu hal yang tetap terjaga, yaitu kesabaran. Karena bagi mereka, menunggu bukan sekadar proses, melainkan bagian dari perjalanan menjadi Bobotoh.
Salah satunya Fanny, Bobotoh asal Cikutra, Kota Bandung, yang sudah mengantre sejak pukul 08.30 WIB. Ia mengaku sengaja datang lebih pagi demi memastikan bisa mendapatkan jersey incaran. Meski harus menunggu, Fanny menilai proses yang diterapkan cukup baik.
"Saya sengaja datang untuk membeli jersey PERSIB x Weekend Offender. Senang banget karena akhirnya bisa mendapatkannya meskipun harus mengantre sejak pagi. Secara umum, semuanya berjalan tertib dan teratur," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi pengaturan antrean dan pembatasan jumlah pembelian yang diterapkan oleh PERSIB Store. Menurutnya, langkah tersebut membuat suasana tetap nyaman dan adil bagi semua Bobotoh yang datang.
Kedekatan PERSIB dan Bobotoh
Di balik antusiasme yang terlihat sejak pagi, VP Commercial PT PERSIB Bandung Bermartabat, Budi Ulia, menilai momen ini sebagai refleksi kuatnya kedekatan antara PERSIB dan Bobotoh, sekaligus sinyal positif bagi pengembangan brand ke depan.
"Yang kami lihat hari ini bukan hanya antrean, tetapi bentuk keterikatan yang kuat antara PERSIB dan Bobotoh. Kolaborasi ini menjadi cara kami untuk menghadirkan PERSIB tidak hanya di dalam pertandingan, tetapi juga dalam gaya hidup sehari-hari," ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan Weekend Offender menjadi bagian dari langkah strategis PERSIB dalam memperluas jangkauan brand, tanpa meninggalkan identitas yang telah mengakar kuat. "Kami ingin PERSIB tetap relevan di berbagai ruang, termasuk di industri lifestyle. Antusiasme Bobotoh hari ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan dan kebanggaan untuk mengekspresikan identitas itu dengan cara yang berbeda," tambahnya.
Lebih lanjut, ia melihat keberhasilan peluncuran ini sebagai awal dari peluang yang lebih besar di masa mendatang. "Ini menjadi energi bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara komersial, tetapi juga memiliki makna bagi Bobotoh. Karena pada akhirnya, setiap produk yang kami hadirkan harus bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai Bobotoh," ujar Budi.***


