
PERSIB.co.id
Komitmen PERSIB dalam menghadirkan pengalaman pertandingan yang tidak hanya meriah, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan, kembali ditunjukkan melalui pengelolaan sampah di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Dalam laga menghadapi Ratchaburi FC, langkah ini menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan yang terus diperkuat hingga pertandingan-pertandingan berikutnya, termasuk saat menghadapi Persik Kediri dan Madura United.
Melalui kolaborasi bersama Jubelo sebagai mitra resmi pengelolaan sampah stadion, seluruh proses pengelolaan dilakukan dengan pendekatan zero waste to landfill. Artinya, tidak ada sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dikelola dan diproses secara bertanggung jawab untuk memberikan nilai guna kembali.
Pada pertandingan PERSIB vs Madura United yang digelar di Stadion GBLA pada 26 Februari 2026, tercatat 2.904 kg sampah berhasil dikelola, terdiri dari 1.205 kg sampah organik, 852 kg anorganik, dan 847 kg residu. Sementara itu, pada laga PERSIB vs Persik Kediri yang berlangsung di Stadion GBLA pada 9 Maret 2026, total 3.278 kg sampah berhasil diproses, dengan komposisi 1.586 kg organik, 759 kg anorganik, dan 933 kg residu.
Angka ini menunjukkan konsistensi pengelolaan yang tidak hanya terukur, tetapi juga terarah pada dampak lingkungan yang lebih luas.
Seluruh sampah tersebut tidak berhenti sebagai limbah. Sampah organik diolah menjadi pakan maggot dan kompos, sampah anorganik dikirim ke fasilitas daur ulang untuk menjadi material yang dapat digunakan kembali, sementara residu diproses melalui fasilitas khusus sesuai prosedur pengelolaan yang berlaku.
Head of Communications PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhi Pratama, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang klub dalam membangun ekosistem pertandingan yang lebih bertanggung jawab.
"Bagi PERSIB, pertandingan bukan hanya tentang apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga bagaimana seluruh ekosistemnya dikelola dengan tanggung jawab. Pengelolaan sampah ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan pengalaman pertandingan yang lebih baik sekaligus berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan," ujar Adhi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa GBLA memiliki makna yang jauh lebih dalam bagi PERSIB dan Bobotoh. "GBLA bukan sekadar venue pertandingan. Ini adalah rumah kita, tempat emosi, kebanggaan, dan sejarah PERSIB terus bertumbuh. Seperti halnya rumah sendiri, stadion ini layak dirawat dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab bersama. Menjaga kebersihan GBLA berarti menjaga kenyamanan, keselamatan, sekaligus martabat PERSIB itu sendiri," tambahnya.
Konsistensi ini juga tercermin dari berbagai pertandingan sebelumnya, di mana pengelolaan sampah terus menunjukkan tren yang terukur dan berkelanjutan. Di antaranya 3.696 kg saat melawan Ratchaburi, 4.862 kg vs Malut United, 4.895 kg vs PSBS Biak, 6.571 kg vs Persija Jakarta, 2.948 kg vs Borneo FC, 3.916 kg vs Bangkok United, 3.872 kg vs Bhayangkara FC, 4.972 kg vs PSM Makassar, 3.003 kg vs Dewa United, 2.522 kg vs Lion City Sailors, 1.564 kg vs Persebaya Surabaya, 1.903 kg vs Persis Solo, dan 2.079 kg vs Selangor FC.
Melalui kampanye #JagaGBLAJagaPERSIB, PERSIB terus mengajak seluruh Bobotoh untuk mengambil peran aktif dalam menjaga stadion. Hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengikuti arahan petugas, serta menjaga fasilitas stadion merupakan bentuk dukungan nyata yang tidak kalah penting dari nyanyian di tribun.
GBLA adalah rumah kita bersama. Menjaganya bukan hanya tentang kebersihan, tetapi tentang bagaimana kita menjaga PERSIB, hari ini dan untuk masa depan.***


