
PERSIB.co.id
PERSIB terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan penyelenggaraan pertandingan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Sepanjang Desember 2025, PERSIB menjalankan program zero waste management di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) melalui kolaborasi bersama Jubelo, mitra pengelola sampah ramah lingkungan yang menangani proses pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan sampah pascapertandingan secara berkelanjutan.
Program ini diterapkan dalam empat laga kandang PERSIB, yakni menghadapi Borneo FC (5 Desember 2025), Bangkok United (10 Desember 2025), Bhayangkara FC (21 Desember 2025), dan PSM Makassar (27 Desember 2025). Dari keempat pertandingan tersebut, total 15.708 kilogram atau sekitar 15,7 ton sampah berhasil dikelola secara bertanggung jawab melalui sistem pengelolaan berlapis yang diterapkan Jubelo.
Pada laga PERSIB kontra Borneo FC, Jubelo mengelola 2.948 kilogram sampah, terdiri dari 856 kilogram sampah organik, 1.432 kilogram sampah anorganik, dan 660 kilogram sampah residu. Seluruh sampah dipilah langsung di area stadion sebelum diangkut ke fasilitas pengolahan lanjutan.
Capaian berlanjut pada pertandingan PERSIB melawan Bangkok United di ajang AFC Champions League, dengan total 3.916 kilogram sampah yang berhasil ditangani. Komposisinya meliputi 1.056 kilogram sampah organik, 1.892 kilogram sampah anorganik, dan 968 kilogram sampah residu. Proses ini melibatkan puluhan petugas lapangan serta dukungan armada pengangkutan khusus untuk memastikan seluruh sampah tertangani dengan baik.
Sementara itu, pada laga PERSIB menghadapi Bhayangkara FC, tercatat 3.872 kilogram sampah berhasil dikelola, terdiri dari 1.020 kilogram sampah organik, 1.865 kilogram sampah anorganik, dan 987 kilogram sampah residu. Seluruhnya diproses sesuai prosedur pengelolaan lingkungan yang berlaku.
Puncak volume pengelolaan terjadi pada pertandingan PERSIB kontra PSM Makassar. Dalam laga tersebut, Jubelo mengelola 4.972 kilogram sampah, dengan rincian 986 kilogram sampah organik, 2.584 kilogram sampah anorganik, dan 1.406 kilogram sampah residu. Angka ini menjadi salah satu capaian tertinggi sepanjang implementasi program zero waste management PERSIB di GBLA.
Seluruh sampah yang terkumpul dari empat pertandingan tersebut diolah melalui sistem pengelolaan berlapis. Sampah organik diproses menjadi pupuk kompos dan pakan maggot, sampah anorganik dikirim ke fasilitas daur ulang untuk dimanfaatkan kembali, sementara sampah residu dimusnahkan di fasilitas khusus sesuai standar dan prosedur lingkungan yang berlaku.
Head of Communications PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhi Pratama, menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, terutama partisipasi aktif Bobotoh. "Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah refleksi dari kesadaran bersama bahwa sepak bola dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan. Kami melihat langsung bagaimana Bobotoh mulai terbiasa memilah dan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan," ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan Jubelo membantu memastikan seluruh proses berjalan secara terukur dan bertanggung jawab. "Euforia pertandingan selalu besar. Tantangannya adalah memastikan euforia itu tidak meninggalkan dampak negatif bagi lingkungan. Dengan sistem yang tepat dan partisipasi Bobotoh, stadion bisa menjadi ruang hiburan yang juga ramah lingkungan," tambahnya.
Ke depan, PERSIB berharap inisiatif ini terus berkembang dan menjadi bagian dari budaya menonton sepak bola di GBLA. Program zero waste management PERSIB bersama Jubelo sepanjang Desember 2025 ini juga menjadi bagian dari komitmen klub dalam kampanye #PERSIBKanAkhirTahunMu, yang mengajak Bobotoh berpartisipasi aktif dengan membuang sampah ke tempat sampah terpilah yang telah disediakan di area stadion. Dari langkah sederhana tersebut, sampah kemudian dikumpulkan, dipilah, dan diolah secara bertanggung jawab.
Inisiatif ini sejalan dengan kampanye #JagaGBLAJagaPERSIB untuk menciptakan suasana pertandingan yang aman, nyaman, dan inklusif. Bagi PERSIB, menjaga GBLA adalah bagian dari cara mencintai klub. Karena GBLA adalah rumah kita semua, yang harus dijaga bersama, di dalam dan di luar lapangan.***


